Seruan
Ketua Persatuan Ulama Muslim Internasional Prof. Dr. Yusuf Al-Qardhawi
menyikapi
pembantaian umat Islam Mesir oleh junta militer pro Israel.
1.Menjadikan
hari
JUMAT tanggal 16/8/2013 sebagai hari kemurkaan umat Islam dunia kepada
militer Mesir
pimpinan As-sisi.
2.Seluruh
umat Islam di setiap negara Muslim agar turun kejalan beserta
anak dan keluarga mereka melakukan aksi damai.
3.Turun
kejalan aksi unjuk rasa ini hukumnya adalah FARDHU'AIN bagi setiap
muslim yang tidak memiliki uzur syar'i.
Kamis, 15 Agustus 2013
Sabtu, 27 Juli 2013
Berpikir Negatif
YANG MEMBUAT HIDUP KITA TIDAK BAHAGIA
Anas bin
Malik menceritakan perjalanannya saat ia bersama Rasulullah SAW. Ketika itu,
datanglah seorang Arab badui dari arah belakang. Dengan serta merta ia menarik
jubah najraani yang dikenakan Rasulullah SAW.
Anas
berkata, “Aku memandang leher Rasulullah SAW dan melihat bahwa jubah itu telah meninggalkan
bekas merah disana karena kerasnya tarikan.” Orang Badui itu kemudian
berkata, “Wahai Muhammad, beri aku sebagian dari kekayaan Allah SWT yang ada
ditanganmu.”
Rasulullah
SAW kemudian menoleh kepadanya, dan tersenyum, lalu memerintahkan agar orang
itu diberi uang.
Kisah ini
menggambarkan betapa mulianya akhlak Rasulullah SAW. Beliau tidak pernah
membalas keburukan orang dengan keburukan lagi. Saat dihina, beliau tidak marah
atau sakit hati. Beliau justru mendoakan kebaikan. Mengapa Rasulullah SAW mampu
bersikap seperti ini? Jawabnya, Rasulullah SAW memiliki kelapangan dada dan
kejernihan pikiran.
Seringkali,
yang membuat hidup kita tidak bahagia adalah justru diri kita sendiri. Gagal
dalam menyikapi suatu kejadian menjadi awal dari bertambahnya penderitaan. Saat
orang yang sedang sariawan lalu makan keipik pedas, sehingga ia malah
marah-marah, uring-uringan dan menangis. Bukan keripiknya yang membuat ia
menderita, tapi karena lidahnya yang berpenyakit.
Itulah sebabnnya, yang membuat hidup kita
tidak nyaman bukan karena perilaku orang lain terhadap kita. Tapi disebabkan
kegemaran kita menyimpan pikiran negatif kepada orang lain. Tersimpannya memori
buruk ini dalam otak kita, seperti cemoohan, penghinaan, pelecehan,
ketersinggungan, kegagalan dan lain sebagainya, justru menghilangkan
kebahagiaan yang sesungguhnya telah nyata didepan mata kita. #
Kamis, 07 Maret 2013
Siti Khadijah Al-Kubro, Tak pernah Rasulullah SAW berhenti mengenangnya
Siti Khadijah adalah seorang
pengusaha yang kaya raya. Sebelum menikah dengan Nabi Muhammad SAW, beliau
adalah pegadang sukses. Dalam sejarah perjuangan Rasulullah SAW, disebutkan
bahwa kekayaan Siti Khadijah banyak dikorbankan untuk mendukung perjuangan Islam.
Rasulullah SAW pun menyebut Khadijah adalah salah satu penghuni syurga.
Ketika Malaikat Jibril datang kepada Rasulullah SAW, dia berkata: "Wahai, Rasulullah, inilah Khadijah yang telah datang membawa sebuah wadah berisi kuah dan makanan atau minuman. Apabila dia datang kepadamu, sampaikan salam kepadanya dari Tuhannya dan aku, dan beritahukan kepadanya tentang sebuah rumah di syurga dari mutiara yang tiada keributan di dalamnya dan tidak ada kepayahan." (HR. Bukhari).
Begitu luar biasanya perjuangan Khadijah lewat hartanya. Tidak pernah Nabi SAW berhenti mengenangnya, meski Khadijah telah lama wafat. Dalam sebuah riwayat, Rasulullah SAW bersabda: "Khadijah beriman kepadaku ketika orang-orang ingkar, dia membenarkan aku ketika orang-orang mendustakan dan dia menolongku dengan hartanya ketika orang-orang tidak memberiku apa-apa."
Selasa, 12 Februari 2013
(Kemiskinan Terus Mendera) Digusur, PKL di Stasiun Lenteng Agung menangis
Puluhan pedagang kaki lima (PKL) di Stasiun Lenteng Agung tidak bisa
melawan saat puluhan pegawai PT Kereta Api menggusur lapak mereka.
Dengan dibantu polisi dan TNI, para pegawai itu menggusur tempat mata
pencaharian mereka.
"Temen-teman juga dipukul sampai jatuh dari peron stasiun, adanya Brimob sama TNI juga sebenarnya menyalahi aturan, kita akan ke Komnas HAM menindak PT KAI, ini di luar batas pelanggar HAM yang terjadi," kata Faldo Maldini dari BEM UI yang ikut membantu para PKL kepada merdeka.com dengan mata berkaca-kaca, Jakarta, Minggu (30/12).
Para pedagang pun bertumbangan, pingsan dan beberapa di antaranya saling berbagi pelukan dengan mahasiswa UI. Salah satunya, pemimpin paguyuban pedagang di Stasiun Lenteng Agung.
"Kita didampingi Komnas Ham, LBH, mahasiswa UI menegur PT KAI. Saya konsisten berdagang di sini, barang saya dihancurkan. Kita ini bukan pedagang ilegal," kata Jali, pedagang kelontong di Lenteng Agung.
Menurut cerita Jali, dirinya dan 120 pedagang di Lenteng Agung selalu membayar sewa kios yang harganya jutaan kepada PT KAI. Bahkan terlampir juga surat bukti pembayaran dan sewa kepada PT KAI.
"Kami mengikuti arahan PT KAI, kami membayar sewa bahkan membeli kios. Untuk penggusuran ini kami sebenarnya melakukan upaya persuasif melalui surat dan dialog tapi tak sedikitpun digubris," lanjut Jai sedih.
Hampir seluruh pedagang dari jalur Stasiun Bogor-Jakarta dibersihkan. PT KAI berdalih upaya ini dilakukan untuk mengembalikan fungsi stasiun sebenarnya. Namun PT KAI tidak memberikan tempat baru.
(sumber : www.merdeka.com)
"Temen-teman juga dipukul sampai jatuh dari peron stasiun, adanya Brimob sama TNI juga sebenarnya menyalahi aturan, kita akan ke Komnas HAM menindak PT KAI, ini di luar batas pelanggar HAM yang terjadi," kata Faldo Maldini dari BEM UI yang ikut membantu para PKL kepada merdeka.com dengan mata berkaca-kaca, Jakarta, Minggu (30/12).
Para pedagang pun bertumbangan, pingsan dan beberapa di antaranya saling berbagi pelukan dengan mahasiswa UI. Salah satunya, pemimpin paguyuban pedagang di Stasiun Lenteng Agung.
"Kita didampingi Komnas Ham, LBH, mahasiswa UI menegur PT KAI. Saya konsisten berdagang di sini, barang saya dihancurkan. Kita ini bukan pedagang ilegal," kata Jali, pedagang kelontong di Lenteng Agung.
Menurut cerita Jali, dirinya dan 120 pedagang di Lenteng Agung selalu membayar sewa kios yang harganya jutaan kepada PT KAI. Bahkan terlampir juga surat bukti pembayaran dan sewa kepada PT KAI.
"Kami mengikuti arahan PT KAI, kami membayar sewa bahkan membeli kios. Untuk penggusuran ini kami sebenarnya melakukan upaya persuasif melalui surat dan dialog tapi tak sedikitpun digubris," lanjut Jai sedih.
Hampir seluruh pedagang dari jalur Stasiun Bogor-Jakarta dibersihkan. PT KAI berdalih upaya ini dilakukan untuk mengembalikan fungsi stasiun sebenarnya. Namun PT KAI tidak memberikan tempat baru.
(sumber : www.merdeka.com)
Selasa, 10 Juli 2012
MONEY POLITIK = SUAP MENYUAP
YANG
MENYUAP DAN YANG DISUAP SAMA-SAMA MASUK NERAKA
Menjelang dilaksanakan Pemilu (baik Pemilihan Anggota DPR,
Presiden dan Gubernur/Bupati), isu money politik (Politik uang) begitu populer.
Kenyataan yang ada dikalangan masyarakat, terutama penduduk miskin dan kumuh, masih banyak yang senang menerima uang atau barang dari pasangan calon gubernur tanpa berpikir, apakah itu merupakan tindakan yang mendidik atau justru merusaknya.
Bahkan ada yang merasa pemberian uang atau barang tersebut sebagai “rezki yang turun dari langit” yang dapat dijadikan sebagai “berkah” di tengah-tengah berbagai kesulitan hidup. Istilah kata, rakyat sangat “Pragmatis” yaitu “lo mau kasih apa buat gue, baru gue pilih apa yang lo minta.”
Jadi, pilihannya bukan karena calon gubernur itu orang sholeh dan jujur, tapi karena calon gubernur itu kasih “sesuatu” untuk dia. Entah itu berupa uang atau barang. Inilah yang disebut sebagai suap, sebagaimana kisah Abdullah bin Ramlah ketika diutus oleh Rasulullah SAW kepada orang Yahudi untuk menentukan berapa kewajiban yang harus mereka (orang Yahudi tersebut) keluarkan dari budidaya kurmanya, di mana orang Yahudi tersebut menawarkan sebuah pemberian yang sangat berharga kepada Ramlah (agar pajak/upetinya dikurangi), namun Ramlah menolaknya dan mengatakan, "Apa yang kamu berikan berupa suap ini merupakan barang haram, kami orang Islam tidak boleh memakannya."
Karena begitu bahayanya masalah suap menyuap ini, sehingga Rasulullah SAW memberikan ancaman kepada mereka yang menerima suap dan melakukan penyuapan, Rasulullah SAW bersabda, "Orang yang menyuap dan yang meminta suap, (kelak) masuk neraka" (H.R. Imam Ath-Thabrani). Dan dalam riwayat lain Imam Ath-Thabrani dari Tsaubah r.a., berkata, "Rasulullah melaknat penyuap, yang disuap dan si perantara, yakni orang yang menjadi perantara suap bagi keduanya".
Dari Ibnu Umar r.a, bahwa Rasulullah SAW bersabda:
لعن رسول الله صلى الله عليه و سلم
الراشي و المرتشي
Rasulullah SAW melaknat orang yang menyuap dan yang
disuap. (HR. At Tirmidzi No. 1337, katanya: hasan shahih. Abu
Daud No. 3580, Al Hakim dalam Al Mustadrak No. 7066, katanya: shahih
sesuai syarat Bukhari dan Muslim. Imam Adz Dzahabi berkata dalam At Talkhish:”Shahih”)
Senin, 14 Mei 2012
MENYOROT POTENSI ZAKAT & WAKAF INDONESIA
Pada tahun 2001 potensi
zakat nasional adalah Rp 30,9 triliun. Pada tahun 2005 dan 2010, angka ini
meningkat menjadi Rp 48,4 triliun dan Rp 106,6 triliun. Temuan ini secara umum
sejalan dengan persepsi publik selama ini bahwa potensi zakat Indonesia adalah
besar.
Namun bila potensi
zakat ini dilihat sebagai persentase dari PDB (Produk Domestik Bruto), maka
terdapat tendensi stagnasi (bahkan menurun), yaitu dari 1,9% dari PDB pada 2001
menjadi di kisaran 1,7% dari PDB pada 2010. Ini menunjukan, perlu optimalisasi
peran zakat secara institusional di
lembaga-lembaga pemerintah dan swasta .
Selain potensi zakat
yang sangat besar, potensi wakaf di Indonesia juga luar biasa. Luas tanah wakaf
masyarakat menurut data Departemen Agama (2003) mencapai 1.535,19 Km persegi, yang
tersebar pada 362.471 lokasi di seluruh Indonesia. Jumlah ini jauh lebih luas
bila dibandingkan dengan luas negara Singapura.
Namun, tanah wakaf ini
sebagian besar hanya digunakan untuk fasilitas ibadah. Belum terlihat
pemanfaatan untuk pembangunan ekonomi dan
pengentasan kemiskinan. Salah satu solusi untuk meningkatkan kebutuhan publik akan
wakaf di Indonesia adalah dana wakaf dari donasi masyarakat (wakaf tunai).
Oleh karena itu, perlu meningkatkan
peran wakaf ini, agar bisa digunakan sebagai penyedia infratsruktur untuk
pengentasan kemiskinan, misalnya penyediaan lahan persawahan sebagai
agroindustri dan lahan perkebunan untuk industri perkebunan masyarakat,
penyediaan gedung sekolah, tempat belajar dan lain-lain. Penggunaan wakaf untuk
keperluan ini Insya Allah telah dibenarkan secara syariah, tinggal bagaimana
kita mengoptimalkannya.#
Rabu, 18 April 2012
KISAH NYATA
Negara rugi Rp.40ribu, Kakek Tua Renta dipenjara
Usianya sudah 68 tahun, namun kakek Hasin masih giat bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari. Untuk memasak, kakek tua renta itu mengambil kayu dihutan. Akibat matanya yang sudah rabun, ia tidak tahu ternyata yang ditebang itu adalah pohon jati diarea yang dikelola Kesatuan Pemangkuan Hutan Saradan, Madiun, Jawa Timur.
Malang tak dapat dicegah, kakek yang tidak bisa berbahasa Indonesia itupun diseret ke Pengadilan. Dalam persidangan, sang kakek hanya didampingi tetangganya. Setelah jaksa membaca dakwaan, sidang dilanjutkan dengan mendengarkan keterangan dua saksi yakni polisi hutan yang mengetahui kejadian tersebut. Sang kakek berujar, “Saya nggak tahu kalau yang saya potong itu pohon jati karena mata saya sudah rabun,” jelasnya.
Kakek Hasin mengaku sering mengambil kayu diarea hutan tersebut, untuk dimanfaatkan sebagai kayu bakar didapur. Namun ia tidak tahu itu kayu apa dan berapa usia kayu itu. Selama persidangan kakek Hasin juga harus duduk mendekat dengan majelis hakim karena pendengarannya tidak lagi normal sehingga sulit mendengar ucapan hakim.
Meski sang kakek berusaha membantah bahwa ia tidak berniat mencuri karena kayu yang dipotongnya hanya seukuran lengan orang dewasa (dalam dakwaan jaksa disebut diameter kayu 10 sentimeter), namun pada hari kamis, 8 Maret 2012 majelis hakim Pengadilan Negeri Kabupaten Madiun mengganjar kakek tua renta itu dengan hukuman penjara selama 2 bulan 15 hari. Dalam persidangan yang hanya berlangsung 1 hari saja!
Selain dihukum penjara, kakek yang berasal dari Dusun Sumberan, Desa Rejomulyo, Kabupaten Ngawi itu juga didenda Rp.50ribu sebagai ganti kerugian Negara Rp.40.360. Hukuman terdakwa didasarkan pada Pasal 50 ayat 3 huruf e juncto Pasal 78 ayat 5 Undang-undang No.41 Tahun 1999 tentang Kehutanan.
(Sumber : diolah dari Koran Tempo edisi Jumat 9 Maret 2012)
Langganan:
Postingan (Atom)



