Dikisahkan bahwa Abdullah bin Mubarak pernah ditanya oleh seorang laki-laki tentang penyakit yang menimpa lututnya semenjak tujuh tahun. Ia telah mengobati lututnya dengan berbagai macam obat. Ia telah bertanya pada para tabib, namun tidak menghasilkan apa-apa. Ibnul Mubarak pun berkata kepadanya, “Pergilah dan galilah sumur, karena manusia sedang membutuhkan air. Saya berharap akan ada mata air dalam sumur yang engkau gali dan dapat menyembuhkan sakit di lututmu. Laki-laki itu lalu menggali sumur dan ia pun sembuh.” (Kisah ini terdapat dalam Shahihut Targhib).
Hakikat Hidup itu...
Mobil mahal bukan jaminan keselamatan.
Menyetir dengan hati-hati dan sabar itulah kunci keselamatan.
Membawa selusin bodyguard bukan jaminan keamanan.
Rendah hati, ramah dan tidak mencari musuh, itulah kunci keamanan.
Obat dan vitamin bukan jaminan hidup sehat.
Jaga mulut, istirahat cukup dan olah raga yang teratur itulah kunci hidup sehat.
Rumah mewah bukan jaminan keluarga bahagia.
Saling mengasihi, menghormati dan memaafkan itulah kunci keluarga bahagia.
Gaji tinggi bukan jaminan kepuasan hidup.
Bersyukur, hemat dan saling menyayangi berkah itulah kunci kepuasan hidup.
Pangkat tinggi bukan jaminan hidup terhormat.
Jujur, punya kredibiltas dan disiplin itulah kunci hidup terhormat.
Hidup berfoya-foya bukan jaminan banyak sahabat.
Setia-kawan, bijaksana, solidaritas, suka menolong Itulah kunci banyak sahabat.
Kosmetik bukan jaminan kecantikan.
Semangat, kasih, ceria, ramah dan senyuman itulah kunci kecantikan.
Satpam dan tembok rumah yang kokoh bukan jaminan hidup tenang.
Hati yang damai, kasih dan bebas tiada keserakahan dan kebencian itulah kunci ketenangan dan rasa aman..
Hidup kita itu sebaiknya ibarat 'jam dinding'. Diliat orang atau tidak ia tetap mendenting. Dihargai orang atau tidak ia tetap berputar. Diterima kasihi atau tidak ia tetap 'bekerja'.
Kalau jam dinding bisa bicara, ia akan berkata: "Karena aku punya kualitas..komitmen...dan tanggung jawab..”
Dalam Islam, kurban tidak berawal dari mitos, sebagaimana pengorbanan agama-agama Kuno Yunani, Mesir, India atau agama ‘Maya’ di Meksiko (yang berkurban kepada para Dewa/Tuhan dengan cara meninggalkan cabang bayi di atas bukit atau melemparkan gadis suci ke dalam sungai keramat). Menurut ajaran Islam, Qurban adalah wujud kepasrahan, pengabdian dan kesalehan hamba. Kisah Ibrahim yang hendak mengorbankan anaknya adalah wujud tawakal dan pengabdian yang total.
Bila kita menilik ke belakang, Qurban sudah ada sejak kehadiran pasangan suami-istri pertama di bumi. Qurban muncul dalam suasana persaingan antara Qabil dan Habil. Kepada kedua anaknya, Adam memaklumkan berkurban. Bagi yang diterima, ia berhak mempersunting Iqlima, saudari kandung Qabil. Namun Qabil yang merasa kalah dalam kompetisi, lalu mengintimidasi, ”Saya akan membunuhmu.” Dengan nada teduh Habil mengingatkan,”Allah SWT hanya menerima (Qurban) dari orang-orang yang bertaqwa” (Q.S. Al-Maidah: 27).
Pada bentuk yang sama dan waktu yang berbeda Al-quran merekam peristiwa lain, seorang Ayah bermimpi selama tiga malam berturut-turut agar menyembelih anaknya. Dengan suara penuh ragu ia sampaikan mimpinya pada si buah hati. Nabi Ibrahim a.s tak menyangka, anaknya malah memantapkan kegundahannya, ”Saya siap,” ujar Nabi Ismail a.s (Q.S. Ash-Shoffaat: 102).
Allah SWT tak pernah meminta dikasih ’sesajen’ daging atau darah hewan yang disembelih. Tapi keikhlasan dan kepasrahan orang yang berkurban, itu yang bernilai disisi-Nya. Perintah-Nya adalah bagikan dagingnya secara adil kepada yang berhak. 1/3 untuk yang berkurban, 1/3 lagi untuk kerabat dan sahabat (walaupun orang kaya), dan sisanya untuk fakir miskin.
Yang perlu diingat adalah berbagi daging qurban untuk fakir miskin, sehingga mereka dapat merasakan kesempurnaan hari raya Idul Adha dan Tasyriq dalam kesetaraan dan kebahagian. Karena bagi fakir miskin, daging ini menjadi wujud “sesekali” dapat menikmati ’makanan orang kaya.’
Rasulullah SAW bersabda, “Tidak ada satu amalan yang paling dicintai Allah dari bani Adam ketika hari raya Idul Adha selain menyembelih hewan qurban. Sesungguhnya hewan qurban itu kelak pada hari kiamat akan datang beserta tanduk-tanduknya, bulu-bulunya dan kuku-kukunya. Dan sesungguhnya sebelum darah qurban itu menyentuh tanah, ia (pahalanya) telah diterima di sisi Allah, maka beruntunglah kalian semua dengan (pahala) qurban itu.”(HR. Tirmidzi, Ibnu Majjah dan Hakim)
Ibu SRI ROCHYATI Binti KARTAWINATA (IBU SUYUD) 72 Tahun
Donatur/Orang Tua Asuh Yayasan Munashoroh Indonesia/Anggota Pengajian Iffatunnisa
Wafat pada hari Ahad, 4 September 2011
Semoga Allah SWT mengampuni dosa-dosanya, memuliakan kedatangannya dan menempatkannya di Syurga. Amin. (Terhatur doa dari 155 anak yatim/anak asuh Munashoroh dari TPA-TPA Munashoroh didesa-desa terpencil serta doa dari seluruh pengurus pusat dan cabang Munashoroh).
Jika anda menanam tanaman semisal sawi, kacang tanah, bayam atau yang lainnya. Apakah semua yang keluar dan tumbuh dari bumi akan anda makan? Yakinlah jawabannya pasti tidak. Karena akarnya harus dibuang, tanah yang menempel harus dibersihkan, daun yang kurang bagus harus dipotong, bahkan yang sudah pilihan sekalipun ketika akan dikonsumsi tetap harus dicuci dan dibersihkan.
Kira-kira seperti itulah analogi dari harta anda kenapa harus dikeluarkan sebagiannya. Karena walau bagaimanapun dan sehalal apapun anda berusaha mendapatkannya pastilah dalam prosesnya ada hal-hal yang bersinggungan dengan dosa entah ucapan, entah perasaan buruk ketika sedang bekerja, atau sikap yang kurang sopan yang tidak anda ketahui.
Karenanya, harta yang anda dapat harus dibersihkan agar sesuatu yang kotor tidak ikut-ikutan masuk ke dalam perut anda dan perut anggota keluarga anda. Mari kita perhatikan hadits Qudsi berikut ini :
11.Kel. Tunggak Jati, Kec. Karawang Barat, Karawang : 7 Anak Yatim Piatu Dhuafa
ACARA JAMBORE PEDULI ANAK YATIM DESA
Pemeriksaan Gigi dan Mata Anak Yatim Desa
Outbond Anak Yatim Desa
Lomba Cerdas Cermat antar Desa
Lomba Pidato, Hafalan Qur’an, MTQ, Pentas Seni Anak Yatim Desa
Anak Yatim Desa Liburan Sekolah ke Keong Mas (TAMAN MINI INDONESIA INDAH)
Ayo, Berbagi Kebahagiaan dengan Mereka…
“Aku dan orang yang menyantuni anak yatim akan berada di syurga seperti ini,” Sabda Rasulullah SAW sambil menempelkan jari telunjuk dan jari tengah Beliau.
Partisipasi dapat berupa Uang, Pakaian Layak Pakai, atau Makanan untuk Anak Yatim Piatu Dhuafa, Binaan Yayasan Munashoroh Indonesia.
Masalah rezeki adalah urusan Allah SWT. Dia yang mengatur semuanya. Sedikit banyaknya ukuran rezeki, semua didasarkan pada kebijaksanaan Allah SWT. Rezeki sengaja dirahasiakan oleh Allah SWT agar umat manusia tertantang untuk meningkatkan kreativitasnya dalam mencari rezeki. Kreativitas itu diperlukan agar pencarian rezeki tidak melanggar ketentuan Allah SWT dan Rasul-Nya. Rezeki yang diperoleh pun harus halal, sehingga menjadi berkah.
Allah SWT berfirman, “'Wahai Muhammad, katakanlah kepada umatmu bahwa sesungguhnya Allahlah yang menghamparkan dan menetapkan banyaknya rezeki kepada siapa yang Ia kehendaki.” (QS Saba': 39).