Jumat, 10 Juni 2011

ADA 1000 ALASAN KENAPA HARUS BERBAGI DENGAN ORANG LAIN

Jika anda menanam tanaman semisal sawi, kacang tanah, bayam atau yang lainnya. Apakah semua yang keluar dan tumbuh dari bumi akan anda makan? Yakinlah jawabannya pasti tidak. Karena akarnya harus dibuang, tanah yang menempel harus dibersihkan, daun yang kurang bagus harus dipotong, bahkan yang sudah pilihan sekalipun ketika akan dikonsumsi tetap harus dicuci dan dibersihkan.

Kira-kira seperti itulah analogi dari harta anda kenapa harus dikeluarkan sebagiannya. Karena walau bagaimanapun dan sehalal apapun anda berusaha mendapatkannya pastilah dalam prosesnya ada hal-hal yang bersinggungan dengan dosa entah ucapan, entah perasaan buruk ketika sedang bekerja, atau sikap yang kurang sopan yang tidak anda ketahui.

Karenanya, harta yang anda dapat harus dibersihkan agar sesuatu yang kotor tidak ikut-ikutan masuk ke dalam perut anda dan perut anggota keluarga anda. Mari kita perhatikan hadits Qudsi berikut ini :

قَالَ اللهُ تَعَالىَ أَنْفِقْ ياَ ابْنَ آدَمَ يُنْفَقْ عَلَيْكَ

“Allah Ta’ala berfirman, Berinfaklah wahai anak Adam (manusia), pasti kamu akan diberi gantinya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Rabu, 08 Juni 2011

Mohon Do’a dan Dukungannya


JAMBORE PEDULI ANAK YATIM DESA
Sabtu - Minggu, 2 - 3 Juli 2011, di Bumi Perkemahan Cibubur, Jakarta
Diikuti oleh 244 Anak Yatim Dhuafa dari 11 Pelosok Desa
di Jawa Barat dan Banten.

1.      Desa Cililitan, Kec. Picung Pandeglang                           : 76 Anak Yatim Piatu Dhuafa
2.      Desa Marga Mulya, Kec. Mauk, Tangerang                   : 62 Anak Yatim Piatu Dhuafa
3.      Desa Kertawana, Kec. Kalimanggis, Kuningan               : 8 Anak Yatim Piatu Dhuafa
4.      Desa Lurogungtonggoh, Kec. Luragung, Kuningan          : 10 Anak Yatim Piatu Dhuafa
5.      Desa Cipondok, Kec. Cibingbin, Kuningan                     : 12 Anak Yatim Piatu Dhuafa
6.      Desa Kertamulya, Kec. Bongas, Indramayu                    : 18 Anak Yatim Piatu Dhuafa
7.      Desa Ciderum Dukuh, Kec. Ciawi, Bogor                       : 8 Anak Yatim Piatu Dhuafa
8.      Desa Tanjung Air, Kec. Babelan, Bekasi                         : 23 Anak Yatim Piatu Dhuafa
9.      Desa Kampung Baru, Kec. Babelan, Bekasi                    : 12 Anak Yatim Piatu Dhuafa
10.  Desa Girijaya, Kec. Nagrak, Sukabumi                           : 8 Anak Yatim Piatu Dhuafa
11.  Kel. Tunggak Jati, Kec. Karawang Barat, Karawang       : 7 Anak Yatim Piatu Dhuafa

ACARA JAMBORE PEDULI ANAK YATIM DESA
  1. Pemeriksaan Gigi dan Mata Anak Yatim Desa
  2. Outbond Anak Yatim Desa
  3. Lomba Cerdas Cermat antar Desa
  4. Lomba Pidato, Hafalan Qur’an, MTQ, Pentas Seni Anak Yatim Desa
  5. Anak Yatim Desa Liburan Sekolah ke Keong Mas (TAMAN MINI INDONESIA INDAH)

Ayo, Berbagi Kebahagiaan dengan Mereka…
“Aku dan orang yang menyantuni anak yatim akan berada di syurga seperti ini,” Sabda Rasulullah SAW sambil menempelkan jari telunjuk dan jari tengah Beliau.

Partisipasi dapat berupa Uang, Pakaian Layak Pakai, atau Makanan untuk Anak Yatim Piatu Dhuafa, Binaan Yayasan Munashoroh Indonesia.
Info Hub. 021.994.64.830

Rabu, 13 April 2011

Hikmah Bulan Ini

Rahasia Rezeki, Rahasia Allah

Masalah rezeki adalah urusan Allah SWT. Dia yang mengatur semuanya. Sedikit banyaknya ukuran rezeki, semua didasarkan pada kebijaksanaan Allah SWT. Rezeki sengaja dirahasiakan oleh Allah SWT agar umat manusia tertantang untuk meningkatkan kreativitasnya dalam mencari rezeki. Kreativitas itu diperlukan agar pencarian rezeki tidak melanggar ketentuan Allah SWT dan Rasul-Nya. Rezeki yang diperoleh pun harus halal, sehingga menjadi berkah.

Allah SWT berfirman, “'Wahai Muhammad, katakanlah kepada umatmu bahwa sesungguhnya Allahlah yang menghamparkan dan menetapkan banyaknya rezeki kepada siapa yang Ia kehendaki.” (QS Saba': 39).

Jumat, 11 Maret 2011

PENGEMIS ITU… TIDAK SEMUANYA MISKIN…

Mulai saat ini.. Berhati-hatilah dalam memberi sedekah untuk Pengemis Jalanan… Kisah ini memang tidak terjadi di Jakarta, tapi tidak menutup kemungkinan justru “kandangnya” ada di Jakarta.
Mari kita tengok kisah nyata tentang Cak To, begitu dia biasa dipanggil. Dia Besar di keluarga pengemis, berkarir sebagai pengemis, dan sekarang jadi bos puluhan pengemis di Surabaya. Dari jalur minta-minta itu, dia sekarang punya dua sepeda motor, sebuah mobil, dan empat rumah!
Cak To tak mau nama aslinya dipublikasikan. Dia juga tak mau wajahnya terlihat ketika difoto . Tapi, Cak To mau bercerita cukup banyak tentang hidup dan ”karir”-nya. Dari anak pasangan pengemis yang ikut mengemis, hingga sekarang menjadi bos bagi sekitar 54 pengemis di Surabaya.
Setelah puluhan tahun mengemis, Cak To sekarang memang bisa lebih menikmati hidup. Sejak 2000, dia tak perlu lagi meminta-minta di jalanan atau perumahan. Cukup mengelola 54 anak buahnya, uang mengalir teratur ke kantong.
Sekarang, setiap hari, dia mengaku mendapatkan pemasukan bersih Rp 200 ribu hingga Rp 300 ribu. Berarti, dalam sebulan, dia punya pendapatan Rp 6 juta hingga Rp 9 juta.
Cak To sekarang juga sudah punya rumah di kawasan Surabaya Barat, yang didirikan di atas tanah seluas 400 meter persegi. Di kampung halamannya di Madura, Cak To sudah membangun dua rumah lagi. Satu untuk dirinya, satu lagi untuk emak dan bapaknya yang sudah renta. Selain itu, ada satu lagi rumah yang dia bangun di Kota Semarang.
Untuk ke mana-mana, Cak To memiliki dua sepeda motor Honda Supra Fit dan sebuah mobil Honda CR-V kinclong keluaran 2004!
Tidak mudah mencari seorang bos pengemis, karena Cak To datang menggunakan mobil Honda CR-V-nya yang berwarna biru metalik. Meski punya mobil yang kinclong, penampilan Cak To memang tidak terlihat seperti ”orang mampu”. Badannya kurus, kulitnya hitam, dengan rambut berombak dan terkesan awut-awutan. Dari gaya bicara, orang juga akan menebak bahwa pria kelahiran 1960 itu tak mengenyam pendidikan cukup. Cak To memang tak pernah menamatkan sekolah dasar.
Dengan bahasa Madura yang sesekali dicampur bahasa Indonesia, pria beranak dua itu mengaku sadar bahwa profesinya akan selalu dicibir orang. Namun, pria asal Bangkalan tersebut tidak peduli. ”Yang penting halal,” ujarnya. (Benarkah Halal? Silahkan anda sendiri yang menjawab)
Cak To bercerita, hampir seluruh hidupnya dia jalani sebagai pengemis. Sulung di antara empat bersaudara itu menjalani dunia tersebut sejak sebelum usia sepuluh tahun. Menurut dia, tidak lama setelah peristiwa pemberontakan G-30-S/PKI. Maklum, emak dan bapaknya dulu pengemis di Bangkalan. ”Dulu awalnya saya diajak Emak untuk meminta-minta di perempatan,” ungkapnya. Karena mengemis di Bangkalan kurang ”menjanjikan”, awal 1970-an, Cak To diajak orang tua pindah ke Surabaya. Adik-adiknya tidak ikut, dititipkan di rumah nenek di sebuah desa di sekitar Bangkalan. Tempat tinggal mereka yang pertama adalah di emperan sebuah toko di kawasan Jembatan Merah.
Bertahun-tahun lamanya mereka menjadi pengemis di Surabaya. Ketika remaja, ”bakat” Cak To untuk menjadi bos pengemis mulai terlihat. Waktu itu, uang yang mereka dapatkan dari meminta-minta sering dirampas preman. Bapak Cak To mulai sakit-sakitan, tak kuasa membela keluarga. Sebagai anak tertua, Cak To-lah yang melawan. ”Saya sering berkelahi untuk mempertahankan uang,” ungkapnya bangga. Meski berperawakan kurus dan hanya bertinggi badan 155 cm, Cak To berani melawan siapa pun. Dia bahkan tak segan menyerang musuhnya menggunakan pisau jika uangnya dirampas.
Karena keberaniannya itulah, pria berambut ikal tersebut lantas disegani di kalangan pengemis. ”Wis tak nampek. Mon la nyalla sebet (Kalau dia bikin gara-gara, langsung saya sabet),” tegasnya. Selain harus menghadapi preman, pengalaman tidak menyenangkan terjadi ketika dia atau keluarga lain terkena razia petugas Satpol PP. ”Kami berpencar kalau mengemis,” jelasnya. Kalau ada keluarga yang terkena razia, mau tidak mau mereka harus mengeluarkan uang hingga ratusan ribu untuk membebaskan.
 
Cak To tergolong “pengemis yang mau belajar.” Bertahun-tahun mengemis, berbagai ”ilmu” dia dapatkan untuk terus meningkatkan penghasilan. Mulai cara berdandan, cara berbicara, cara menghadapi aparat, dan sebagainya. Makin lama, Cak To menjadi makin senior, hingga menjadi mentor bagi pengemis yang lain. Penghasilannya pun terus meningkat. Pada pertengahan 1990, penghasilan Cak To sudah mencapai Rp 30 ribu sampai Rp 50 ribu per hari. ”Pokoknya sudah enak,” katanya. Dengan penghasilan yang terus meningkat, Cak To mampu membeli sebuah rumah sederhana di kampungnya. Saat pulang kampung, dia sering membelikan oleh-oleh cukup mewah. ”Saya pernah beli oleh-oleh sebuah tape recorder dan TV 14 inci,” kenang Cak To.
Saat itulah, Cak To mulai meniti langkah menjadi seorang bos pengemis. Dia mulai mengumpulkan anak buah. Cerita tentang ”keberhasilan” Cak To menyebar cepat di kampungnya. Empat teman seumuran mengikutinya ke Surabaya. ”Kasihan, panen mereka gagal. Ya sudah, saya ajak saja,” ujarnya enteng. Sebelum ke Surabaya, Cak To mengajari mereka cara menjadi pengemis yang baik. Pelajaran itu terus dia lanjutkan ketika mereka tinggal di rumah kontrakan di kawasan Surabaya Barat. ”Kali pertama, teman-teman mengaku malu. Tapi, saya meyakinkan bahwa dengan pekerjaan ini, mereka bisa membantu saudara di kampung,” tegasnya.
Karena sudah mengemis sebagai kelompok, mereka pun bagi-bagi wilayah kerja. Ada yang ke perumahan di kawasan Surabaya Selatan, ada yang ke Surabaya Timur. Agar tidak mencolok, ketika berangkat, mereka berpakaian rapi. Ketika sampai di ”pos khusus”, Cak To dan empat rekannya itu lantas mengganti penampilan. Tampil compang-camping untuk menarik iba dan uang recehan. Hanya setahun mengemis, kehidupan empat rekan tersebut menunjukkan perbaikan. Mereka tak lagi menumpang di rumah Cak To. Sudah punya kontrakan sendiri-sendiri. Pada 1996 itu pula, pada usia ke-36, Cak To mengakhiri masa lajang. Dia menyunting seorang gadis di kampungnya. Sejak menikah, kehidupan Cak To terus menunjukkan peningkatan…
Setiap tahun, jumlah anak buah Cak To terus bertambah. Semakin banyak anak buah, semakin banyak pula setoran yang mereka berikan kepada Cak To. Makanya, sejak 2000, dia sudah tidak mengemis setiap hari. Sebenarnya, Cak To tak mau mengungkapkan jumlah setoran yang dia dapatkan setiap hari. Setelah didesak, dia akhirnya mau buka mulut. Yaitu, Rp 200 ribu hingga Rp 300 ribu per hari, yang berarti Rp 6 juta hingga Rp 9 juta per bulan. Menurut Cak To, dia tidak memasang target untuk anak buahnya. Dia hanya minta setoran sukarela. Ada yang setor setiap hari, seminggu sekali, atau sebulan sekali. ”Ya alhamdulillah, anak buah saya masih loyal kepada saya,” ucapnya. Dari penghasilannya itu, Cak To bahkan mampu memberikan sebagian nafkah kepada masjid dan musala di mana dia singgah.
Dia juga tercatat sebagai donatur tetap di sebuah masjid di Gresik. ”Amal itu kan ibadah. Mumpung kita masih hidup, banyaklah beramal,” katanya. Sekarang, dengan hidup yang sudah tergolong enak itu, Cak To mengaku tinggal mengejar satu hal saja. ”Saya ingin naik haji,” ungkapnya. Wow… “NAIK HAJI DARI PENGHASILAN UANG MENGEMIS”

Rabu, 23 Februari 2011

REZEKI ITU TAK AKAN SALAH ALAMAT…

"Cari yang haram saja susah apalagi cari yang halal!" Demikian ungkapan yang sering kita dengar. Terkadang tanpa sadar keluar dari mulut kita sendiri, atau… hati kita ikut membenarkannya. Seolah-olah menjadi legalitas untuk mencari harta dengan cara-cara yang tak halal.

Ini kenyataan yang terjadi di tengah masyarakat. Hanya sedikit yang mau peduli dengan rambu-rambu syari’at.

Kejadian ini sudah diprediksi oleh Rasulullah SAW, lewat sabdanya, "Akan datang suatu masa pada umat manusia, mereka tidak lagi peduli dengan cara untuk mendapatkan harta, apakah melalui cara yang halal ataukah dengan cara yang haram". [HR Bukhari].

Rasulullah SAW bahkan mengancam mereka yang mencari rezeki dari jalan yang haram, "Sesungguhnya tidak akan masuk surga daging yang tumbuh dari harta yang haram. Neraka lebih pantas untuknya". [HR Ahmad dan Ad Darimi].

Ada satu penyebab manusia “mencoba-coba” mengambil rezeki dari jalan yang haram. Misalnya karena ia merasa rezekinya terhambat. Namun, bila karena itu ia berusaha “mengambil” rezeki yang bukan hak-nya, maka ia sedang bermaksiat kepada Allah SWT.

Mari kita tengok hadits Rasulullah SAW, dari Jabir r.a, "Janganlah menganggap rezki kalian lambat turun. Sesungguhnya, tidak ada seorang pun meninggalkan dunia ini, melainkan setelah sempurna rezkinya. Carilah rezki dengan cara yang baik (dengan) mengambil yang halal dan meninggalkan perkara yang haram".

Itulah mengapa kita memahami bahwa “Rezeki itu tak akan SALAH ALAMAT” Yakinlah, Allah SWT sebagai pemberi rezeki tak akan pernah salah apalagi lalai memberi rezeki kepada hamba-Nya. Mencuri atau tidak mencuri, korupsi atau tidak korupsi, maka segitulah rezeki kita, tinggal bagaimana kita menyikapinya.

Rabu, 12 Januari 2011

KEUANGAN YAYASAN 2010


NERACA KEUANGAN YAYASAN MUNASHOROH INDONESIA

Periode Januari – Desember 2010






NO
Penerimaan
TOTAL
PRESENTASE
(Rupiah)
(%)
1
Saldo Per 31 Desember 2009
57,531,403
20.4%
2
Zakat Maal / Profesi
23,556,300
8.3%
3
Zakat Fitrah
2,752,250
1.0%
4
Infaq (Khusus Yatim)
48,110,000
17.0%
5
Infaq – Shodaqoh
47,902,950
17.0%
6
Fidyah
1,015,000
0.4%
7
Dana Qurban
27,100,000
9.6%
8
Dana Hibah
69,300,000
24.5%
9
Pengembalian Pinjaman Dana Usaha
5,150,000
1.8%
10
Bagi Hasil Bank
126,196
0.0%
Total Penerimaan
282,544,099
100.0%




NO
Pengeluaran
TOTAL
TOTAL
(Rupiah)
(Rupiah)
1
Kelompok Fakir

11.8%

Warung Sembako Dhuafa
12,130,000

Pengobatan Gratis Warga Dhuafa Desa
1,245,000

Bantuan Pelunasan Hutang Dhuafa & Yatim
1,840,000

Santunan Kematian
100,000

Penyaluran Zakat Fitrah & Fidyah Langsung
5,422,750
2
Kelompok Miskin

64.3%

Qurban di Desa Tertinggal
30,754,000

Aqiqah di Desa Tertinggal
10,155,000

Pinjaman Dana Usaha Dhuafa
16,185,000

Santunan Anak Yatim Dhuafa
33,661,500

Bantuan Sekolah Anak Asuh Binaan Yatim
10,531,000

Pelatihan Life Skills Dhuafa
450,000

Hadiah Anak Yatim Dhuafa Berprestasi
2,380,000

Bantuan Dana Pengobatan Penyakit
8,230,000

Lomba Kreatifitas Anak-anak Dhuafa
200,000
3
Kelompok Fii Sabilillah

14.3%

Buletin Dakwah Munashoroh
5,291,000

Majelis Ta'lim, Pelatihan Kepemudaan, dll
19,671,000
4
Kelompok Amil Zakat

9.6%

Operasional (Transport, Pulsa, Fotocopi, dll)
5,088,500

Kafalah Amil Zakat
3,644,000

Biaya Rapat Kerja
5,150,800

Pajak dan Administrasi Bank
123,457

Biaya Promosi (Cetak Kalender, dll)
2,843,000
Total Pengeluaran
175,096,007
100.0%
Saldo 31 Desember 2010
107,448,092




Referensi : Dalam Al-Qur'an disebutkan tentang Pendistribusian dana Zakat/Infaq, ”Sesungguhnya Zakat itu hanyalah untuk orang-orang fakir, miskin, amil zakat, mualaf, untuk memerdekakan budak, membebaskan orang yang berhutang, fii sabilillah, dan musafir...” -ada 8 kelompok- (QS.At-taubah : 60). Hikmahnya, Setiap Kelompok  Penerima Zakat (termasuk Amil Zakat) dapat memperoleh Zakat yang besarnya 1/8 bagian (12,5%). Alhamdulillah, Kesesuaian terhadap proporsi pembagian dana zakat/infaq tsb tetap terpelihara. Bahkan presentase pendistribusian dana untuk Kelompok Amil masih dibawah 12,5% (Yaitu 9,6% - Silahkan Lihat Neraca)

Selasa, 04 Januari 2011

Tantangan 2011 : Selalu Siap menghadapi Kenyataan

Kebiasaan itu seperti candu. Bisa membuat terlena... Lupa akan misi yang kita bawa, lupa akan tujuan yang ingin kita capai. Kebiasaan itu menyenangkan, sehingga begitu menyenangkannya, kita berusaha mempertahankannya, mirip seperti orang kecanduan. Tidak berani mengambil situasi baru, takut mengambil keputusan yang beresiko, takut menghadapi tantangan baru.

Ketika awal bekerja, kita masuk dengan penuh ketakjuban dan antusiasme mempelajari segala sesuatu. Kita mendapatkan pelajaran-pelajaran penting pada tahun-tahun pertama. Entah tahun pertama sebagai karyawan, sebagai manajer, sebagai direktur, maupun sebagai pebisnis.

Setelah tahun-tahun pertama lewat, sebagian besar dari kita menggunakan pelajaran itu untuk menempuh perjalanan selanjutnya. Kita merasa sudah mahir menyelesaikan berbagai tantangan. Tetapi apa jadinya? Kenyataannya, tantangan baru terus bermunculan. Konstelasi mengalami perubahan. Orang lama hilang, orang baru muncul. Kemudian, kita akan merasa tidak berdaya, dipermainkan oleh situasi yang tak kita pahami. Merasa terjerembab dalam kubangan yang melemahkan potensi.

Sahabatku... Dari waktu ke waktu, kehidupan itu mengalir seperti sebuah sungai. Kita tidak pernah bisa melintasi sungai yang sama dua kali. Walau tampak sama, tetapi isi dan bentuk sungai itu terus berubah. Kalau anda perhatikan selama beberapa bulan, anda bisa melihat bagaimana perubahan lekukan tubuh sungai. Belum lagi isinya yang berubah-ubah terus.

Dunia masa lalu berbeda dengan masa kini, beda pula dengan masa depan.
Apa yang berhasil di masa lalu, belum tentu berhasil hari ini.
Apa yang mustahil di hari ini, bisa jadi kepastian esok hari.

Kita terus melintasi sungai yang senantiasa berubah setiap saat. Dengan melangkah ke dalam sungai, kita telah mengubah sungai itu sekaligus mengubah diri kita.

Sungai yang kita lintasi sepertinya sungai yang sama, tetapi sebenarnya sungai itu berbeda. Persoalan yang kita hadapi mungkin mirip dengan masa lalu, tetapi sesungguhnya persoalan itu tidak persis sama.

Bangsa yang barokah bukan bangsa yang tanpa persoalan. Tapi bangsa yang barokah adalah bangsa yang mampu menyelesaikan persoalan-persoalan yang ia hadapi. Tanyakan pada diri sendiri dan rekan anda, “Siapkah kita menghadapi persoalan yang baru nanti?” (Azf)