Senin, 08 Desember 2014

Ancaman Bagi Pemimpin Yang Menyesatkan

Pada hari ketika muka mereka dibolak-balikan dalam neraka, mereka berkata, "Alangkah baiknya, andaikata kami taat kepada Allah SWT dan taat pula kepada Rasulullah SAW." Dan mereka berkata, "Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami telah mentaati pemimpin-pemimpin dan pembesar-pembesar kami, lalu mereka menyesatkan kami dari jalan yang benar. Ya Tuhan kami, timpakanlah kepada mereka adzab dua kali lipat dan kutuklah mereka dengan kutukan yang besar."
(QS. Al-Ahzab : 66-68).

Sabtu, 06 Desember 2014

Menyekolahkan Anak Yatim Desa

Sejak tahun 2010, YMI Telah menerobos pelosok-pelosok desa di berbagai Kabupaten di Indonesia, untuk menyekolahkan kembali anak-anak yatim desa yang putus sekolah serta membangkitkan kembali semangat mereka untuk terus bersekolah hingga mereka mandiri. Sekarang, Alhamdulillah sudah 5 anak yang sudah lulus SMU dan mampu menghafal Al-Qur'an dengan baik lewat TPA (Taman Pendidikan Al-Qur'an) yang kami dirikan di desa tersebut.

Kami terus mengundang Bapak/Ibu donatur dan para dermawan yang ingin mengasuh dan menyekolahkan anak yatim di pelosok desa (jarak jauh) melalui program yang sudah kami gulirkan sejak 4 tahun lalu : Program Orang Tua Asuh Anak Yatim Desa. 1 Orang Tua di Kota Menyekolahkan/Mengasuh 1 Anak Yatim di Desa. Silahkan pilih anak asuh Bapak/Ibu dengan menghubungi kami di 021.994.64.830. Berikut adalah contoh data anak asuh (anak yatim desa) yang kami kelola.


Bersama YMI
Menyekolahkan Anak Yatim Hingga Pelosok Desa Terpencil

Rabu, 01 Januari 2014

I L M U

Dr. Amir Faishol Fath (@amirfath) :
1. Ilmu itu didatangi bukan mendatangi (Al Ilmu yu'taa wa Laa ya'tii).
2. Untuk mendapatkan ilmu harus merendah, karena ilmu tidak akan masuk ke dalam hati yang sombong.
3. Ilmu seperti air, ia selalu mengalir ke tempat yang rendah dan tidak mau mengalir ke tempat yang tinggi.

4. Jadilah seperti kendi, setelah diisi ia langsung dibagi-bagi ke cangkir-cangkir, inilah ilmu yang bermanfaat.

Rabu, 30 Oktober 2013

Pesan Direktur Munashoroh Indonesia

 10 HAL YANG JANGAN DITINGGALKAN
  1. Jangan meninggalkan tilawah Al-qur’an karena tak tahu artinya. Ketidaktahuan akan arti dalam membaca Al-Qur’an masih lebih baik daripada ketidakmauan membaca Al-Qur’an.
  2. Jangan meninggalkan Majelis Talim karena merasa bosan dan jenuh. Kejenuhan dalam Majelis Talim mendapat pahala kebaikan lebih besar daripada kemeriahan menonton Televisi.
  3. Jangan meninggalkan dakwah karena merasa belum pantas. Sesungguhnya dakwah itu bukan hanya mengajak dan memperbaiki orang lain, tapi juga mengingatkan diri kita sendiri.
  4. Jangan meninggalkan amal sholeh karena takut tidak ikhlas. Beramal sholeh sambil meluruskan niat lebih baik daripada tidak beramal sama sekali.
  5. Jangan meninggalkan zikir karena ketidakhadiran hati. Galau saat berzikir lebih baik daripada berkhayal yang melenakan.
  6. Jangan meninggalkan perkumpulan orang-orang shaleh karena kecewa. Sabar bersama orang-orang yang shaleh lebih baik daripada keceriaanmu bersama orang-orang yang banyak berbuat dosa.
  7. Jangan meninggalkan amanah karena berat. Beratnya amanah yang kau emban sebanding dengan beratnya timbangan amal sholeh yang akan kau dapatkan nanti.
  8. Jangan meninggalkan peperangan karena terluka. Kematian di medan perang lebih baik daripada hidup dalam kelalaian.
  9. Jangan meninggalkan cinta karena cemburu. Hidup tanpa cinta hanya akan melahirkan kegersangan jiwa.
  10. Jangan meninggalkan persaudaraan karena merasa tak nyaman. Ketidaknyamanan dalam bersaudara masih lebih baik daripada merasa gagah dalam kesendirian. 
Adhi Azfar
Direktur Munashoroh Indonesia

Kamis, 15 Agustus 2013

Seruan Prof. Dr. Yusuf Qardhawi

Seruan Ketua Persatuan Ulama Muslim Internasional Prof. Dr. Yusuf Al-Qardhawi menyikapi pembantaian umat Islam Mesir oleh junta militer pro Israel. 
1.Menjadikan hari JUMAT tanggal 16/8/2013 sebagai hari kemurkaan umat Islam dunia kepada militer Mesir pimpinan As-sisi. 
2.Seluruh umat Islam di setiap negara Muslim agar turun kejalan beserta anak dan keluarga mereka melakukan aksi damai. 
3.Turun kejalan aksi unjuk rasa ini hukumnya adalah FARDHU'AIN bagi setiap muslim yang tidak memiliki uzur syar'i.

Sabtu, 27 Juli 2013

Berpikir Negatif

YANG MEMBUAT HIDUP KITA TIDAK BAHAGIA
 
Anas bin Malik menceritakan perjalanannya saat ia bersama Rasulullah SAW. Ketika itu, datanglah seorang Arab badui dari arah belakang. Dengan serta merta ia menarik jubah najraani yang dikenakan Rasulullah SAW.
 
Anas berkata, “Aku memandang leher Rasulullah SAW dan melihat bahwa jubah itu telah meninggalkan bekas merah disana karena kerasnya tarikan.” Orang Badui itu kemudian berkata, “Wahai Muhammad, beri aku sebagian dari kekayaan Allah SWT yang ada ditanganmu.”
 
Rasulullah SAW kemudian menoleh kepadanya, dan tersenyum, lalu memerintahkan agar orang itu diberi uang.
 
Kisah ini menggambarkan betapa mulianya akhlak Rasulullah SAW. Beliau tidak pernah membalas keburukan orang dengan keburukan lagi. Saat dihina, beliau tidak marah atau sakit hati. Beliau justru mendoakan kebaikan. Mengapa Rasulullah SAW mampu bersikap seperti ini? Jawabnya, Rasulullah SAW memiliki kelapangan dada dan kejernihan pikiran.
 
Seringkali, yang membuat hidup kita tidak bahagia adalah justru diri kita sendiri. Gagal dalam menyikapi suatu kejadian menjadi awal dari bertambahnya penderitaan. Saat orang yang sedang sariawan lalu makan keipik pedas, sehingga ia malah marah-marah, uring-uringan dan menangis. Bukan keripiknya yang membuat ia menderita, tapi karena lidahnya yang berpenyakit.
 
Itulah sebabnnya, yang membuat hidup kita tidak nyaman bukan karena perilaku orang lain terhadap kita. Tapi disebabkan kegemaran kita menyimpan pikiran negatif kepada orang lain. Tersimpannya memori buruk ini dalam otak kita, seperti cemoohan, penghinaan, pelecehan, ketersinggungan, kegagalan dan lain sebagainya, justru menghilangkan kebahagiaan yang sesungguhnya telah nyata didepan mata kita. #

Kamis, 07 Maret 2013

Siti Khadijah Al-Kubro, Tak pernah Rasulullah SAW berhenti mengenangnya

Siti Khadijah adalah seorang pengusaha yang kaya raya. Sebelum menikah dengan Nabi Muhammad SAW, beliau adalah pegadang sukses. Dalam sejarah perjuangan Rasulullah SAW, disebutkan bahwa kekayaan Siti Khadijah banyak dikorbankan untuk mendukung perjuangan Islam. Rasulullah SAW pun menyebut Khadijah adalah salah satu penghuni syurga. 

Ketika Malaikat Jibril datang kepada Rasulullah SAW, dia berkata: "Wahai, Rasulullah, inilah Khadijah yang telah datang membawa sebuah wadah berisi kuah dan makanan atau minuman. Apabila dia datang kepadamu, sampaikan salam kepadanya dari Tuhannya dan aku, dan beritahukan kepadanya tentang sebuah rumah di syurga dari mutiara yang tiada keributan di dalamnya dan tidak ada kepayahan." (HR. Bukhari).

Begitu luar biasanya perjuangan Khadijah lewat hartanya. Tidak pernah Nabi SAW berhenti mengenangnya, meski Khadijah telah lama wafat. Dalam sebuah riwayat, Rasulullah SAW bersabda: "Khadijah beriman kepadaku ketika orang-orang ingkar, dia membenarkan aku ketika orang-orang mendustakan dan dia menolongku dengan hartanya ketika orang-orang tidak memberiku apa-apa."

Selasa, 12 Februari 2013

(Kemiskinan Terus Mendera) Digusur, PKL di Stasiun Lenteng Agung menangis

Puluhan pedagang kaki lima (PKL) di Stasiun Lenteng Agung tidak bisa melawan saat puluhan pegawai PT Kereta Api menggusur lapak mereka. Dengan dibantu polisi dan TNI, para pegawai itu menggusur tempat mata pencaharian mereka.

"Temen-teman juga dipukul sampai jatuh dari peron stasiun, adanya Brimob sama TNI juga sebenarnya menyalahi aturan, kita akan ke Komnas HAM menindak PT KAI, ini di luar batas pelanggar HAM yang terjadi," kata Faldo Maldini dari BEM UI yang ikut membantu para PKL kepada merdeka.com dengan mata berkaca-kaca, Jakarta, Minggu (30/12).

Para pedagang pun bertumbangan, pingsan dan beberapa di antaranya saling berbagi pelukan dengan mahasiswa UI. Salah satunya, pemimpin paguyuban pedagang di Stasiun Lenteng Agung.

"Kita didampingi Komnas Ham, LBH, mahasiswa UI menegur PT KAI. Saya konsisten berdagang di sini, barang saya dihancurkan. Kita ini bukan pedagang ilegal," kata Jali, pedagang kelontong di Lenteng Agung.

Menurut cerita Jali, dirinya dan 120 pedagang di Lenteng Agung selalu membayar sewa kios yang harganya jutaan kepada PT KAI. Bahkan terlampir juga surat bukti pembayaran dan sewa kepada PT KAI.

"Kami mengikuti arahan PT KAI, kami membayar sewa bahkan membeli kios. Untuk penggusuran ini kami sebenarnya melakukan upaya persuasif melalui surat dan dialog tapi tak sedikitpun digubris," lanjut Jai sedih.

Hampir seluruh pedagang dari jalur Stasiun Bogor-Jakarta dibersihkan. PT KAI berdalih upaya ini dilakukan untuk mengembalikan fungsi stasiun sebenarnya. Namun PT KAI tidak memberikan tempat baru.

(sumber : www.merdeka.com)

Selasa, 10 Juli 2012

MONEY POLITIK = SUAP MENYUAP

 YANG MENYUAP DAN YANG DISUAP SAMA-SAMA MASUK NERAKA
 
Menjelang dilaksanakan Pemilu (baik Pemilihan Anggota DPR, Presiden dan Gubernur/Bupati), isu money politik (Politik uang) begitu populer.

Kenyataan yang ada dikalangan masyarakat, terutama penduduk miskin dan kumuh, masih banyak yang  senang menerima uang atau barang dari pasangan calon gubernur tanpa berpikir, apakah itu merupakan tindakan yang  mendidik atau justru merusaknya. 

Bahkan ada yang merasa pemberian uang atau barang tersebut sebagai “rezki yang turun dari langit” yang dapat dijadikan sebagai “berkah” di tengah-tengah berbagai kesulitan hidup. Istilah kata, rakyat sangat “Pragmatis” yaitu “lo mau kasih apa buat gue, baru gue pilih apa yang lo minta.”

Jadi, pilihannya bukan karena calon gubernur itu orang sholeh dan jujur, tapi karena calon gubernur itu kasih “sesuatu” untuk dia. Entah itu berupa uang atau barang. Inilah yang disebut sebagai suap, sebagaimana kisah Abdullah bin Ramlah ketika diutus oleh Rasulullah SAW kepada orang Yahudi untuk menentukan berapa kewajiban yang harus mereka (orang Yahudi tersebut) keluarkan dari budidaya kurmanya, di mana orang Yahudi tersebut menawarkan sebuah pemberian yang sangat berharga kepada Ramlah (agar pajak/upetinya dikurangi), namun Ramlah menolaknya dan mengatakan, "Apa yang kamu berikan berupa suap ini merupakan barang haram, kami orang Islam tidak boleh memakannya."

Karena begitu bahayanya masalah suap menyuap ini, sehingga Rasulullah SAW memberikan ancaman kepada mereka yang menerima suap dan melakukan penyuapan, Rasulullah SAW bersabda, "Orang yang menyuap dan yang meminta suap, (kelak) masuk neraka" (H.R. Imam Ath-Thabrani). Dan dalam riwayat lain Imam Ath-Thabrani dari Tsaubah r.a., berkata, "Rasulullah melaknat penyuap, yang disuap dan si perantara, yakni orang yang menjadi perantara suap bagi keduanya".
                
Dari Ibnu Umar r.a, bahwa Rasulullah SAW bersabda:
لعن رسول الله صلى الله عليه و سلم الراشي و المرتشي
                Rasulullah SAW melaknat orang yang menyuap dan yang disuap. (HR. At Tirmidzi No. 1337, katanya: hasan shahih.  Abu Daud No. 3580, Al Hakim dalam Al Mustadrak No. 7066, katanya: shahih sesuai syarat Bukhari dan Muslim. Imam Adz Dzahabi berkata dalam At Talkhish:”Shahih”)

Senin, 14 Mei 2012

MENYOROT POTENSI ZAKAT & WAKAF INDONESIA

Pada tahun 2001 potensi zakat nasional adalah Rp 30,9 triliun. Pada tahun 2005 dan 2010, angka ini meningkat menjadi Rp 48,4 triliun dan Rp 106,6 triliun. Temuan ini secara umum sejalan dengan persepsi publik selama ini bahwa potensi zakat Indonesia adalah besar.
Namun bila potensi zakat ini dilihat sebagai persentase dari PDB (Produk Domestik Bruto), maka terdapat tendensi stagnasi (bahkan menurun), yaitu dari 1,9% dari PDB pada 2001 menjadi di kisaran 1,7% dari PDB pada 2010. Ini menunjukan, perlu optimalisasi peran zakat  secara institusional di lembaga-lembaga pemerintah dan swasta .
Selain potensi zakat yang sangat besar, potensi wakaf di Indonesia juga luar biasa. Luas tanah wakaf masyarakat menurut data Departemen Agama (2003) mencapai 1.535,19 Km persegi, yang tersebar pada 362.471 lokasi di seluruh Indonesia. Jumlah ini jauh lebih luas bila dibandingkan dengan luas negara Singapura.
Namun, tanah wakaf ini sebagian besar hanya digunakan untuk fasilitas ibadah. Belum terlihat pemanfaatan untuk  pembangunan ekonomi dan pengentasan kemiskinan. Salah satu solusi untuk meningkatkan kebutuhan publik akan wakaf di Indonesia adalah dana wakaf dari donasi masyarakat (wakaf tunai).
Oleh karena itu, perlu meningkatkan peran wakaf ini, agar bisa digunakan sebagai penyedia infratsruktur untuk pengentasan kemiskinan, misalnya penyediaan lahan persawahan sebagai agroindustri dan lahan perkebunan untuk industri perkebunan masyarakat, penyediaan gedung sekolah, tempat belajar dan lain-lain. Penggunaan wakaf untuk keperluan ini Insya Allah telah dibenarkan secara syariah, tinggal bagaimana kita mengoptimalkannya.#

Rabu, 18 April 2012

KISAH NYATA


Negara rugi Rp.40ribu, Kakek Tua Renta dipenjara

Usianya sudah 68 tahun, namun kakek Hasin masih giat bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari. Untuk memasak, kakek tua renta itu mengambil kayu dihutan. Akibat matanya yang sudah rabun, ia tidak tahu ternyata yang ditebang itu adalah pohon jati diarea yang dikelola Kesatuan Pemangkuan Hutan Saradan, Madiun, Jawa Timur.

Malang tak dapat dicegah, kakek yang tidak bisa berbahasa Indonesia itupun diseret ke Pengadilan. Dalam persidangan, sang kakek hanya didampingi tetangganya. Setelah jaksa membaca dakwaan, sidang dilanjutkan dengan mendengarkan keterangan dua saksi yakni polisi hutan yang mengetahui kejadian tersebut. Sang kakek berujar, “Saya nggak tahu kalau yang saya potong itu pohon jati karena mata saya sudah rabun,” jelasnya.

Kakek Hasin mengaku sering mengambil kayu diarea hutan tersebut, untuk dimanfaatkan sebagai kayu bakar didapur. Namun ia tidak tahu itu kayu apa dan berapa usia kayu itu. Selama persidangan kakek Hasin juga harus duduk mendekat dengan majelis hakim karena pendengarannya tidak lagi normal sehingga sulit mendengar ucapan hakim.

Meski sang kakek berusaha membantah bahwa ia tidak berniat mencuri karena kayu yang dipotongnya hanya seukuran lengan orang dewasa (dalam dakwaan jaksa disebut diameter kayu 10 sentimeter), namun pada hari kamis, 8 Maret 2012 majelis hakim Pengadilan Negeri Kabupaten Madiun mengganjar kakek tua renta itu dengan hukuman penjara selama 2 bulan 15 hari. Dalam persidangan yang hanya berlangsung 1 hari saja!

Selain dihukum penjara, kakek yang berasal dari Dusun Sumberan, Desa Rejomulyo, Kabupaten Ngawi itu juga didenda Rp.50ribu sebagai ganti kerugian Negara Rp.40.360. Hukuman terdakwa didasarkan pada Pasal 50 ayat 3 huruf e juncto Pasal 78 ayat 5 Undang-undang No.41 Tahun 1999 tentang Kehutanan.
(Sumber : diolah dari Koran Tempo edisi Jumat 9 Maret 2012)

Rabu, 16 November 2011

Kisah Shahihut Targhib

Sembuh setelah 7 Tahun Sakit
 
Dikisahkan bahwa Abdullah bin Mubarak pernah ditanya oleh seorang laki-laki tentang penyakit yang menimpa lututnya semenjak tujuh tahun. Ia telah mengobati lututnya dengan berbagai macam obat. Ia telah bertanya pada para tabib, namun tidak menghasilkan apa-apa. Ibnul Mubarak pun berkata kepadanya, “Pergilah dan galilah sumur, karena manusia sedang membutuhkan air. Saya berharap akan ada mata air dalam sumur yang engkau gali dan dapat menyembuhkan sakit di lututmu. Laki-laki itu lalu menggali sumur dan ia pun sembuh.” (Kisah ini terdapat dalam Shahihut Targhib).
 

Selasa, 25 Oktober 2011

Bila Jam Dinding bisa Bicara

Hakikat Hidup itu...                                                                                          
Mobil mahal bukan jaminan keselamatan.
Menyetir dengan hati-hati dan sabar itulah kunci keselamatan.

Membawa selusin bodyguard bukan jaminan keamanan.
Rendah hati, ramah dan tidak mencari musuh, itulah kunci keamanan.

Obat dan vitamin bukan jaminan hidup sehat.
Jaga mulut, istirahat cukup  dan olah raga yang teratur itulah kunci hidup sehat.

Rumah mewah bukan jaminan keluarga bahagia.
Saling mengasihi, menghormati dan memaafkan itulah kunci keluarga bahagia.

Gaji tinggi bukan jaminan kepuasan hidup.
Bersyukur, hemat dan saling menyayangi berkah itulah kunci kepuasan hidup.

Pangkat tinggi bukan jaminan hidup terhormat.
Jujur, punya kredibiltas dan disiplin itulah kunci hidup terhormat.

Hidup berfoya-foya bukan jaminan banyak sahabat.
Setia-kawan, bijaksana, solidaritas, suka menolong Itulah kunci banyak sahabat.

Kosmetik bukan jaminan kecantikan.
Semangat, kasih, ceria, ramah dan senyuman itulah kunci kecantikan.

Satpam dan tembok rumah yang kokoh bukan jaminan hidup tenang.
Hati yang damai, kasih dan bebas tiada keserakahan dan kebencian itulah kunci ketenangan dan rasa aman..

Hidup kita itu sebaiknya ibarat 'jam dinding'. Diliat orang atau tidak ia tetap mendenting. Dihargai orang atau tidak ia tetap berputar. Diterima kasihi atau tidak ia tetap 'bekerja'.

Kalau jam dinding bisa bicara, ia akan berkata: "Karena aku punya kualitas..komitmen...dan tanggung jawab..”

Rabu, 12 Oktober 2011

Qurban dan Mitos Agama-agama

(Buletin Munashoroh Edisi Oktober 2011)

Dalam Islam, kurban tidak berawal dari mitos, sebagaimana pengorbanan agama-agama Kuno Yunani, Mesir, India atau agama ‘Maya’ di Meksiko (yang berkurban kepada para Dewa/Tuhan dengan cara meninggalkan cabang bayi di atas bukit atau melemparkan gadis suci ke dalam sungai keramat). Menurut ajaran Islam, Qurban adalah wujud kepasrahan, pengabdian dan kesalehan hamba. Kisah Ibrahim yang hendak mengorbankan anaknya adalah wujud tawakal dan pengabdian yang total.
Bila kita menilik ke belakang, Qurban sudah ada sejak kehadiran pasangan suami-istri pertama di bumi. Qurban muncul dalam suasana persaingan antara Qabil dan Habil. Kepada kedua anaknya, Adam memaklumkan berkurban. Bagi yang diterima, ia berhak mempersunting Iqlima, saudari kandung Qabil. Namun Qabil yang merasa kalah dalam kompetisi, lalu mengintimidasi, ”Saya akan membunuhmu.” Dengan nada teduh Habil mengingatkan,”Allah SWT hanya menerima (Qurban) dari orang-orang yang bertaqwa” (Q.S. Al-Maidah: 27).
Pada bentuk yang sama dan waktu yang berbeda Al-quran merekam peristiwa lain, seorang Ayah bermimpi selama tiga malam berturut-turut agar menyembelih anaknya. Dengan suara penuh ragu ia sampaikan mimpinya pada si buah hati. Nabi Ibrahim a.s tak menyangka, anaknya malah memantapkan kegundahannya, ”Saya siap,” ujar Nabi Ismail a.s (Q.S. Ash-Shoffaat: 102).
Allah SWT tak pernah meminta dikasih ’sesajen’ daging atau darah hewan yang disembelih. Tapi keikhlasan dan kepasrahan orang yang berkurban, itu yang bernilai disisi-Nya. Perintah-Nya adalah bagikan dagingnya secara adil kepada yang berhak. 1/3 untuk yang berkurban, 1/3 lagi untuk kerabat dan sahabat (walaupun orang kaya), dan sisanya untuk fakir miskin.
Yang perlu diingat adalah berbagi daging qurban untuk fakir miskin, sehingga mereka dapat merasakan kesempurnaan hari raya Idul Adha dan Tasyriq dalam kesetaraan dan kebahagian. Karena bagi fakir miskin, daging ini menjadi wujud “sesekali” dapat menikmati ’makanan orang kaya.’
Rasulullah SAW bersabda, “Tidak ada satu amalan yang paling dicintai Allah dari bani Adam ketika hari raya Idul Adha selain menyembelih hewan qurban. Sesungguhnya hewan qurban itu kelak pada hari kiamat akan datang beserta tanduk-tanduknya, bulu-bulunya dan kuku-kukunya. Dan sesungguhnya sebelum darah qurban itu menyentuh tanah, ia (pahalanya) telah diterima di sisi Allah, maka beruntunglah kalian semua dengan (pahala) qurban itu.” (HR. Tirmidzi, Ibnu Majjah dan Hakim)
 

Minggu, 11 September 2011

BERITA MUNASHOROH


Innalillahi Wa Inna ilaihi Roji’un

Keluarga Besar Munashoroh Indonesia
TURUT BERDUKA CITA ATAS WAFATNYA

Ibu SRI ROCHYATI Binti KARTAWINATA (IBU SUYUD)  72 Tahun
Donatur/Orang Tua Asuh Yayasan Munashoroh Indonesia/Anggota Pengajian Iffatunnisa
Wafat pada hari Ahad, 4 September 2011

Semoga Allah SWT mengampuni  dosa-dosanya, memuliakan kedatangannya dan menempatkannya di Syurga. Amin. (Terhatur doa dari 155 anak yatim/anak asuh Munashoroh dari TPA-TPA Munashoroh didesa-desa terpencil serta doa dari seluruh pengurus pusat dan cabang Munashoroh).

Jumat, 10 Juni 2011

ADA 1000 ALASAN KENAPA HARUS BERBAGI DENGAN ORANG LAIN

Jika anda menanam tanaman semisal sawi, kacang tanah, bayam atau yang lainnya. Apakah semua yang keluar dan tumbuh dari bumi akan anda makan? Yakinlah jawabannya pasti tidak. Karena akarnya harus dibuang, tanah yang menempel harus dibersihkan, daun yang kurang bagus harus dipotong, bahkan yang sudah pilihan sekalipun ketika akan dikonsumsi tetap harus dicuci dan dibersihkan.

Kira-kira seperti itulah analogi dari harta anda kenapa harus dikeluarkan sebagiannya. Karena walau bagaimanapun dan sehalal apapun anda berusaha mendapatkannya pastilah dalam prosesnya ada hal-hal yang bersinggungan dengan dosa entah ucapan, entah perasaan buruk ketika sedang bekerja, atau sikap yang kurang sopan yang tidak anda ketahui.

Karenanya, harta yang anda dapat harus dibersihkan agar sesuatu yang kotor tidak ikut-ikutan masuk ke dalam perut anda dan perut anggota keluarga anda. Mari kita perhatikan hadits Qudsi berikut ini :

قَالَ اللهُ تَعَالىَ أَنْفِقْ ياَ ابْنَ آدَمَ يُنْفَقْ عَلَيْكَ

“Allah Ta’ala berfirman, Berinfaklah wahai anak Adam (manusia), pasti kamu akan diberi gantinya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Rabu, 08 Juni 2011

Mohon Do’a dan Dukungannya


JAMBORE PEDULI ANAK YATIM DESA
Sabtu - Minggu, 2 - 3 Juli 2011, di Bumi Perkemahan Cibubur, Jakarta
Diikuti oleh 244 Anak Yatim Dhuafa dari 11 Pelosok Desa
di Jawa Barat dan Banten.

1.      Desa Cililitan, Kec. Picung Pandeglang                           : 76 Anak Yatim Piatu Dhuafa
2.      Desa Marga Mulya, Kec. Mauk, Tangerang                   : 62 Anak Yatim Piatu Dhuafa
3.      Desa Kertawana, Kec. Kalimanggis, Kuningan               : 8 Anak Yatim Piatu Dhuafa
4.      Desa Lurogungtonggoh, Kec. Luragung, Kuningan          : 10 Anak Yatim Piatu Dhuafa
5.      Desa Cipondok, Kec. Cibingbin, Kuningan                     : 12 Anak Yatim Piatu Dhuafa
6.      Desa Kertamulya, Kec. Bongas, Indramayu                    : 18 Anak Yatim Piatu Dhuafa
7.      Desa Ciderum Dukuh, Kec. Ciawi, Bogor                       : 8 Anak Yatim Piatu Dhuafa
8.      Desa Tanjung Air, Kec. Babelan, Bekasi                         : 23 Anak Yatim Piatu Dhuafa
9.      Desa Kampung Baru, Kec. Babelan, Bekasi                    : 12 Anak Yatim Piatu Dhuafa
10.  Desa Girijaya, Kec. Nagrak, Sukabumi                           : 8 Anak Yatim Piatu Dhuafa
11.  Kel. Tunggak Jati, Kec. Karawang Barat, Karawang       : 7 Anak Yatim Piatu Dhuafa

ACARA JAMBORE PEDULI ANAK YATIM DESA
  1. Pemeriksaan Gigi dan Mata Anak Yatim Desa
  2. Outbond Anak Yatim Desa
  3. Lomba Cerdas Cermat antar Desa
  4. Lomba Pidato, Hafalan Qur’an, MTQ, Pentas Seni Anak Yatim Desa
  5. Anak Yatim Desa Liburan Sekolah ke Keong Mas (TAMAN MINI INDONESIA INDAH)

Ayo, Berbagi Kebahagiaan dengan Mereka…
“Aku dan orang yang menyantuni anak yatim akan berada di syurga seperti ini,” Sabda Rasulullah SAW sambil menempelkan jari telunjuk dan jari tengah Beliau.

Partisipasi dapat berupa Uang, Pakaian Layak Pakai, atau Makanan untuk Anak Yatim Piatu Dhuafa, Binaan Yayasan Munashoroh Indonesia.
Info Hub. 021.994.64.830

Rabu, 13 April 2011

Hikmah Bulan Ini

Rahasia Rezeki, Rahasia Allah

Masalah rezeki adalah urusan Allah SWT. Dia yang mengatur semuanya. Sedikit banyaknya ukuran rezeki, semua didasarkan pada kebijaksanaan Allah SWT. Rezeki sengaja dirahasiakan oleh Allah SWT agar umat manusia tertantang untuk meningkatkan kreativitasnya dalam mencari rezeki. Kreativitas itu diperlukan agar pencarian rezeki tidak melanggar ketentuan Allah SWT dan Rasul-Nya. Rezeki yang diperoleh pun harus halal, sehingga menjadi berkah.

Allah SWT berfirman, “'Wahai Muhammad, katakanlah kepada umatmu bahwa sesungguhnya Allahlah yang menghamparkan dan menetapkan banyaknya rezeki kepada siapa yang Ia kehendaki.” (QS Saba': 39).

Jumat, 11 Maret 2011

PENGEMIS ITU… TIDAK SEMUANYA MISKIN…

Mulai saat ini.. Berhati-hatilah dalam memberi sedekah untuk Pengemis Jalanan… Kisah ini memang tidak terjadi di Jakarta, tapi tidak menutup kemungkinan justru “kandangnya” ada di Jakarta.
Mari kita tengok kisah nyata tentang Cak To, begitu dia biasa dipanggil. Dia Besar di keluarga pengemis, berkarir sebagai pengemis, dan sekarang jadi bos puluhan pengemis di Surabaya. Dari jalur minta-minta itu, dia sekarang punya dua sepeda motor, sebuah mobil, dan empat rumah!
Cak To tak mau nama aslinya dipublikasikan. Dia juga tak mau wajahnya terlihat ketika difoto . Tapi, Cak To mau bercerita cukup banyak tentang hidup dan ”karir”-nya. Dari anak pasangan pengemis yang ikut mengemis, hingga sekarang menjadi bos bagi sekitar 54 pengemis di Surabaya.
Setelah puluhan tahun mengemis, Cak To sekarang memang bisa lebih menikmati hidup. Sejak 2000, dia tak perlu lagi meminta-minta di jalanan atau perumahan. Cukup mengelola 54 anak buahnya, uang mengalir teratur ke kantong.
Sekarang, setiap hari, dia mengaku mendapatkan pemasukan bersih Rp 200 ribu hingga Rp 300 ribu. Berarti, dalam sebulan, dia punya pendapatan Rp 6 juta hingga Rp 9 juta.
Cak To sekarang juga sudah punya rumah di kawasan Surabaya Barat, yang didirikan di atas tanah seluas 400 meter persegi. Di kampung halamannya di Madura, Cak To sudah membangun dua rumah lagi. Satu untuk dirinya, satu lagi untuk emak dan bapaknya yang sudah renta. Selain itu, ada satu lagi rumah yang dia bangun di Kota Semarang.
Untuk ke mana-mana, Cak To memiliki dua sepeda motor Honda Supra Fit dan sebuah mobil Honda CR-V kinclong keluaran 2004!
Tidak mudah mencari seorang bos pengemis, karena Cak To datang menggunakan mobil Honda CR-V-nya yang berwarna biru metalik. Meski punya mobil yang kinclong, penampilan Cak To memang tidak terlihat seperti ”orang mampu”. Badannya kurus, kulitnya hitam, dengan rambut berombak dan terkesan awut-awutan. Dari gaya bicara, orang juga akan menebak bahwa pria kelahiran 1960 itu tak mengenyam pendidikan cukup. Cak To memang tak pernah menamatkan sekolah dasar.
Dengan bahasa Madura yang sesekali dicampur bahasa Indonesia, pria beranak dua itu mengaku sadar bahwa profesinya akan selalu dicibir orang. Namun, pria asal Bangkalan tersebut tidak peduli. ”Yang penting halal,” ujarnya. (Benarkah Halal? Silahkan anda sendiri yang menjawab)
Cak To bercerita, hampir seluruh hidupnya dia jalani sebagai pengemis. Sulung di antara empat bersaudara itu menjalani dunia tersebut sejak sebelum usia sepuluh tahun. Menurut dia, tidak lama setelah peristiwa pemberontakan G-30-S/PKI. Maklum, emak dan bapaknya dulu pengemis di Bangkalan. ”Dulu awalnya saya diajak Emak untuk meminta-minta di perempatan,” ungkapnya. Karena mengemis di Bangkalan kurang ”menjanjikan”, awal 1970-an, Cak To diajak orang tua pindah ke Surabaya. Adik-adiknya tidak ikut, dititipkan di rumah nenek di sebuah desa di sekitar Bangkalan. Tempat tinggal mereka yang pertama adalah di emperan sebuah toko di kawasan Jembatan Merah.
Bertahun-tahun lamanya mereka menjadi pengemis di Surabaya. Ketika remaja, ”bakat” Cak To untuk menjadi bos pengemis mulai terlihat. Waktu itu, uang yang mereka dapatkan dari meminta-minta sering dirampas preman. Bapak Cak To mulai sakit-sakitan, tak kuasa membela keluarga. Sebagai anak tertua, Cak To-lah yang melawan. ”Saya sering berkelahi untuk mempertahankan uang,” ungkapnya bangga. Meski berperawakan kurus dan hanya bertinggi badan 155 cm, Cak To berani melawan siapa pun. Dia bahkan tak segan menyerang musuhnya menggunakan pisau jika uangnya dirampas.
Karena keberaniannya itulah, pria berambut ikal tersebut lantas disegani di kalangan pengemis. ”Wis tak nampek. Mon la nyalla sebet (Kalau dia bikin gara-gara, langsung saya sabet),” tegasnya. Selain harus menghadapi preman, pengalaman tidak menyenangkan terjadi ketika dia atau keluarga lain terkena razia petugas Satpol PP. ”Kami berpencar kalau mengemis,” jelasnya. Kalau ada keluarga yang terkena razia, mau tidak mau mereka harus mengeluarkan uang hingga ratusan ribu untuk membebaskan.
 
Cak To tergolong “pengemis yang mau belajar.” Bertahun-tahun mengemis, berbagai ”ilmu” dia dapatkan untuk terus meningkatkan penghasilan. Mulai cara berdandan, cara berbicara, cara menghadapi aparat, dan sebagainya. Makin lama, Cak To menjadi makin senior, hingga menjadi mentor bagi pengemis yang lain. Penghasilannya pun terus meningkat. Pada pertengahan 1990, penghasilan Cak To sudah mencapai Rp 30 ribu sampai Rp 50 ribu per hari. ”Pokoknya sudah enak,” katanya. Dengan penghasilan yang terus meningkat, Cak To mampu membeli sebuah rumah sederhana di kampungnya. Saat pulang kampung, dia sering membelikan oleh-oleh cukup mewah. ”Saya pernah beli oleh-oleh sebuah tape recorder dan TV 14 inci,” kenang Cak To.
Saat itulah, Cak To mulai meniti langkah menjadi seorang bos pengemis. Dia mulai mengumpulkan anak buah. Cerita tentang ”keberhasilan” Cak To menyebar cepat di kampungnya. Empat teman seumuran mengikutinya ke Surabaya. ”Kasihan, panen mereka gagal. Ya sudah, saya ajak saja,” ujarnya enteng. Sebelum ke Surabaya, Cak To mengajari mereka cara menjadi pengemis yang baik. Pelajaran itu terus dia lanjutkan ketika mereka tinggal di rumah kontrakan di kawasan Surabaya Barat. ”Kali pertama, teman-teman mengaku malu. Tapi, saya meyakinkan bahwa dengan pekerjaan ini, mereka bisa membantu saudara di kampung,” tegasnya.
Karena sudah mengemis sebagai kelompok, mereka pun bagi-bagi wilayah kerja. Ada yang ke perumahan di kawasan Surabaya Selatan, ada yang ke Surabaya Timur. Agar tidak mencolok, ketika berangkat, mereka berpakaian rapi. Ketika sampai di ”pos khusus”, Cak To dan empat rekannya itu lantas mengganti penampilan. Tampil compang-camping untuk menarik iba dan uang recehan. Hanya setahun mengemis, kehidupan empat rekan tersebut menunjukkan perbaikan. Mereka tak lagi menumpang di rumah Cak To. Sudah punya kontrakan sendiri-sendiri. Pada 1996 itu pula, pada usia ke-36, Cak To mengakhiri masa lajang. Dia menyunting seorang gadis di kampungnya. Sejak menikah, kehidupan Cak To terus menunjukkan peningkatan…
Setiap tahun, jumlah anak buah Cak To terus bertambah. Semakin banyak anak buah, semakin banyak pula setoran yang mereka berikan kepada Cak To. Makanya, sejak 2000, dia sudah tidak mengemis setiap hari. Sebenarnya, Cak To tak mau mengungkapkan jumlah setoran yang dia dapatkan setiap hari. Setelah didesak, dia akhirnya mau buka mulut. Yaitu, Rp 200 ribu hingga Rp 300 ribu per hari, yang berarti Rp 6 juta hingga Rp 9 juta per bulan. Menurut Cak To, dia tidak memasang target untuk anak buahnya. Dia hanya minta setoran sukarela. Ada yang setor setiap hari, seminggu sekali, atau sebulan sekali. ”Ya alhamdulillah, anak buah saya masih loyal kepada saya,” ucapnya. Dari penghasilannya itu, Cak To bahkan mampu memberikan sebagian nafkah kepada masjid dan musala di mana dia singgah.
Dia juga tercatat sebagai donatur tetap di sebuah masjid di Gresik. ”Amal itu kan ibadah. Mumpung kita masih hidup, banyaklah beramal,” katanya. Sekarang, dengan hidup yang sudah tergolong enak itu, Cak To mengaku tinggal mengejar satu hal saja. ”Saya ingin naik haji,” ungkapnya. Wow… “NAIK HAJI DARI PENGHASILAN UANG MENGEMIS”

Rabu, 23 Februari 2011

REZEKI ITU TAK AKAN SALAH ALAMAT…

"Cari yang haram saja susah apalagi cari yang halal!" Demikian ungkapan yang sering kita dengar. Terkadang tanpa sadar keluar dari mulut kita sendiri, atau… hati kita ikut membenarkannya. Seolah-olah menjadi legalitas untuk mencari harta dengan cara-cara yang tak halal.

Ini kenyataan yang terjadi di tengah masyarakat. Hanya sedikit yang mau peduli dengan rambu-rambu syari’at.

Kejadian ini sudah diprediksi oleh Rasulullah SAW, lewat sabdanya, "Akan datang suatu masa pada umat manusia, mereka tidak lagi peduli dengan cara untuk mendapatkan harta, apakah melalui cara yang halal ataukah dengan cara yang haram". [HR Bukhari].

Rasulullah SAW bahkan mengancam mereka yang mencari rezeki dari jalan yang haram, "Sesungguhnya tidak akan masuk surga daging yang tumbuh dari harta yang haram. Neraka lebih pantas untuknya". [HR Ahmad dan Ad Darimi].

Ada satu penyebab manusia “mencoba-coba” mengambil rezeki dari jalan yang haram. Misalnya karena ia merasa rezekinya terhambat. Namun, bila karena itu ia berusaha “mengambil” rezeki yang bukan hak-nya, maka ia sedang bermaksiat kepada Allah SWT.

Mari kita tengok hadits Rasulullah SAW, dari Jabir r.a, "Janganlah menganggap rezki kalian lambat turun. Sesungguhnya, tidak ada seorang pun meninggalkan dunia ini, melainkan setelah sempurna rezkinya. Carilah rezki dengan cara yang baik (dengan) mengambil yang halal dan meninggalkan perkara yang haram".

Itulah mengapa kita memahami bahwa “Rezeki itu tak akan SALAH ALAMAT” Yakinlah, Allah SWT sebagai pemberi rezeki tak akan pernah salah apalagi lalai memberi rezeki kepada hamba-Nya. Mencuri atau tidak mencuri, korupsi atau tidak korupsi, maka segitulah rezeki kita, tinggal bagaimana kita menyikapinya.